thumbnail

Perempuan Bisa! Kita Bisa!

29 Oktober 2021

Kisah mahasiswi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN) Yogyakarta bernama Hastu Wijayasri membuktikan hal itu. Hastu yang memiliki disabilitas tunarungu dan tunawicara berhasil menjadi programer perempuan. Ia bersama rekan lainnya bergabung menjadi anggota Developer Student Club (DSC) yang merupakan salah satu program Google untuk developer Indonesia. Mereka semua adalah para pengembang aplikasi didikan program-program Google.

Dengan bantuan penerjemah, Hastu mengatakan perkenalan pertamanya dengan dunia coding ialah ketika mengikuti workshop yang diadakan DSC di Yogyakarta. Saat itu, hal mengenai coding dan membuat aplikasi masih asing baginya. 

Kemudian, sejak berkuliah di program Teknik Informatika di Tahun 2017, ia mulai berniat mendalami dunia pengembangan aplikasi. Hastu pun bergabung dalam kelas pelatihan developer yang dipimpin oleh mentornya, Mas Aulia. Kegigihan belajar juga ia tunjukkan dengan aktif mengikuti kegiatan di kampus, organisasi Pusat Layanan Difabel salah satunya. Organisasi ini yang akhirnya mendorong keras Hastu untuk membuat aplikasi bernama Sukacare, Aplikasi yang ia bangun bersama Tesya Nurintan, DSC Lead UIN Yogyakarta ini sangat berguna, terutama bagi para difabel lainnya. Dengan aplikasi ini, para penyandang tunanetra dapat lebih mudah memperoleh materi kuliah.

Dalam kesempatan, Tesya menjelaskan akan ada dua aplikasi, yakni bagi volunteer dan difabel. "Melalui Aplikasi Sukacare, teman-teman tunanetra bisa meminta volunteer untuk membacakan buku materi. Kemudian volunteer akan mengirim rekaman audio bacaan materi sesuai permintaan ke teman-teman difabel."


Pendekatan dan cara yang berbeda

Selama menjadi fasilitator Hastu dalam pelatihan, Tesya mengaku menerapkan pendekatan berbeda karena keistimewaan Hastu. Ia sering memberikan beberapa tautan dan buku materi coding untuk dibaca Hastu.

Dalam perjalanan dunia codingnya, Hastu sering mengalami perubahan mood dalam mengerjakan proyek. Di awal-awal, Ia kerap ciut nyali karena minder dengan kemampuan orang lain yang sudah mahir dalam dunia coding. "Saat aku belum paham tentang developer, isinya orang-orang yang bisa mendengar dan sudah paham dunia developer. Aku merasa minder, apakah aku bisa seperti mereka?" aku Hastu kala itu.

Tidak berlama-lama, ia kembali bangkit dan mengingat tekad yang ingin mengangkat nasib teman-teman difabel lainnya, agar bisa berkesempatan yang sama dalam dunia kerja, Dan Alhamdulillah, Hastu juga sempat mengikuti beasiswa Android Academy dan Dicoding, mitra training Google untuk kelas MADE (Menjadi Pengembang Android). Membahas pengalaman setahun belajar ngoding, Hastu menyampaikan memang banyak halangan dan kurang-kurangnya. Jadi harus lebih banyak bertanya kepada orang yang lebih paham dan berpenglaman.


Sumber :

https://tekno.kompas.com/read/2018/12/06/20120087/mengenal-hastu-wijayasri-sosok-programer-perempuan-difabel-indonesia?page=all



#MuslimlifeMenjawabKeresahanmu


Download Aplikasi Muslimlife sekarang juga !
Playstore
Appstore
Topik Terkait :

Baca Artikel dan Berita Lainnya :