thumbnail

Kepedulian Fisikawan Peraih Nobel Fisika

30 September 2021

Latar belakang 

Abdul Salam lahir pada tanggal 29 Januari 1926 di Jhang, Ia terlahir dari keluarga menengah ke bawah yang kuat terhadap tradisi pendidikan. Ayahnya bekerja sebagai pegawai di departemen pendidikan daerah pertanian miskin. Kepintaran dan bakat istimewa di bidang sains sudah terlihat sejak Salam remaja. Saat usia 14 tahun, Salam berhasil memecahkan rekor nilai tertinggi dalam ujian matrikulasi di Universitas Punjab. Hebatnya lagi, beasiswa-beasiswa pun berdatangan. Lulus dari Universitas Punjab, Salam melanjutkan studi di St. John's College, Inggris. Salam berhasil meraih BA sekaligus matematika dan fisika di Tahun 1949. Setahun berselang, Salam memenangkan Smith’s Prize di University of Cambrigde untuk kerja keras dan jasa pra-doktornya pada bidang fisika. Tidak berhenti disitu, diusianya 26 tahun, Salam mendapat gelar PhD untuk fisika teori. Puncak ketenaran dan reputasi internasional Salam ialah publikasi tesisnya mengenai elektrodinamika kuantum di Tahun 1961. Melanjutkan studinya, Salam meraih gelar Doktor Sains Honoris Causa dari puluhan lembaga ilmiah di seluruh dunia.


Kembali ke Tanah Air

Mendapat banyak tawaran riset dan mengajar, Salam yang sangat mencintai tanah airnya memilih untuk kembali dan mengabdi pada negara asalnya. Pemerintah Pakistan menerima pilihan Salam itu dengan rasa bangga. Salam pun diangkat menjadi profesor di Government College, Lahore dan menjabat sebagai Kepala Departemen Matematika Universitas Punjab,

Namun terkadang perjalanan hidup tidak selalu mulus. Banyak rintangan yang dialami Salam, seperti tidak adanya jurnal, tradisi riset bahkan dukungan yang memadai, serta kesempatan menghadiri konferensi ilmiah di negeri tercintanya itu. 


Perjalanan Kerja dan Penghargaan

Setelah 3 tahun bertahan di Lahore, Salam pun masih dihadapi kegalauan untuk memilih fisika atau Pakistan. Melewati masa dilematis, akhirnya Salam memilih kembali ke Inggris. Tidak berselang lama setelah kembali, di Tahun 1957 Salam menjadi Profesor di Imperial College. Kabar baiknya, di universitas yang sangat terkenal di Inggris itu, prestasi Salam sangat meningkat. Ratusan publikasi hasil risetnya banyak mengundang percayaan dan penghargaan untuk menduduki  jabatan tinggi di banyak institusi. 


Di PBB, Salam juga dipercaya menjabat sebagai sekretaris jenderal bidang sains untuk konferensi penggunaan damai energi atom, Jenewa di Tahun 1955 dan 1958, serta pimpinan komisi penasehat bidang sains dan teknologi selama dua tahun, yakni Tahun 1971 sampaidengan Tahun 1972.

Tidak lupa tanah air, Abdul Salam tetap mengabdi di bidang pendidikan, energi atom dan ruang angkasa. Bahkan, ia diutus menjadi penasehat presiden di bidang sains selama Tahun 1961 sampaidengan Tahun 1974.


Nobel Fisika 

Berkat dedikasi dan semangat mengabdinya, Nama Abdul Salam tercatat sejarah perkembangan ilmu fisika dunia di Tahun 1979. Bersama Steven Weinberg dan Sheldon Glashow, ia dianugerahi Nobel Fisika atas kontribusi menyatukan gaya elektromagnetik dan gaya nuklir lemah. Teori yang dinamakan elektrolemah (electroweak) menjadi pijakan kuat pengembangan teori penyatuan maha agaung (grand unification theory) yang berusaha menyatukan kedua gaya ini dan gaya inti (gaya kuat). Sehingga, teori yang dikembangkan Abdus Salam menjadi inti penting dalam pengembangan model standar fisika partikel. Tidak begitu saja diterima, tentu saja teori Abdus Salam telah melewati pengujian di Superprotosynchrotron di CERN Geneva, yang telah memimpin penemuan partikel W dan Z.


Peran untuk Dunia

Kepedulian dan perjuangan Salam berlanjut dengan target yang lebih luas. Ia ingin mencari jalan agar orang0orang seperti dirinya tidak kehilangan kesempatan menjadi ilmuan. Menggandeng para kolega Eropa dan Amerika serta dukungan PBB (Lembaga Energi Atom Internasional), didirikanlah ICPT (Internasional Center for Theoritical Physics) pada Tahun 1964, yang terletak di Trieste, Italia. 

Menurut Herwing Schopper, adanya lembaga yang juga secara reguler dikunjungi para ilmuan dari 50-an negara berkembang adalah sumbangan besar, khususnya bagi komunitas fisikawan. Dalam 30  tahun, tercatat ICTP telah dikunjung oleh 60.000 ilmuan dari 150 negara. Tidak berhenti disitu, Salam juga mendirikan serta menjadi presiden The World Academy of Sciences. Bahkan, ia juga menjadi presiden pertama The Third World Network of Scientific Organization. Ya, itulah kisah perjuangan yang tidak kenal lelah dari sosok Salam yang serius melakukan riset fisika dan pengembangan tradisi ilmiah di negara berkembang. Rasanya sangat setuju dengan tulisan dari majalah New Scientist edisi 26 Agustus 1876, "Dunia merugi karena Abdus Salam hanya dapat hidup sekali." 

Di depan peserta Simposium Universitas PBB di Kuwait Tahun 1981, Abdus Salam menyampaikan pesan mendalam, bahwa “Penciptaan fisika merupakan warisan bersama seluruh umat manusia. Timur dan Barat, Utara dan Selatan, semua mempunyai saham yang sama di dalamnya.” 

Sumber : 


#MuslimlifeMenjawabKeresahanmu

Download Aplikasi Muslimlife sekarang juga !
Playstore
Appstore
Topik Terkait :

Baca Artikel dan Berita Lainnya :