thumbnail

Begini Sebaiknya Memperlakukan Hewan!

23 Juni 2022

Trik Jitu dan Menyenangkan Mengenalkan Si Kecil pada Hewan Peliharaan |

Foto: lapismalang.com

Islam mengajarkan kasih sayang. Berbuat baik kepada sesama ciptaan Allah Ta'ala dan dilarang berbuat keji, termasuk kepada hewan. Dalam Shahih Bukhari yang bersumber dari Said bin Jubair, ia berkata:

“Ketika aku berada di dekat Ibnu Umar, lewatlah pemuda, mereka menyakiti dan melempari seekor ayam. Ketika mereka melihat Ibnu Umar, mereka bercerai berai. Berkatalah Ibnu Umar: “Siapa yang berbuat? Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah Ta'ala melaknat orang yang menyiksa binatang”.


Untuk itu, marilah memperlakukan hewan sesuai hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yakni seperti berikut ini:

1. Menyayangi

Hewan Peliharaan Juga Perlu Pendamping – DW – 05.11.2015

Foto: dw.com

Bentuk menyayangi hewan antara lain: memberi makan, minum, dan semua perlakuan yang bertujuan merawat dengan baik.  

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِى الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِى السَّمَاء

“orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi pula oleh Ar-Rahman, maka sayangilah makhluk di bumi niscaya yang dilangit akan menyayangimu” (HR. Tirmidzi)


Kemudian, dalam hadits lain Rasulullah menyatakan bahwa seseorang yang tidak menyayangi makhluk di bumi, maka ia juga tidak akan dikasiani oleh Allah Ta'ala.

مَنْلَايَرْحَمُلَايُرْحَمُ

“Barang siapa yang tidak berbelas kasih, niscaya tidak dibelaskasihi” (HR. Al-Bukhari; 5997, Muslim: 2318)


Maka itu, sayangilah hewan-hewan ciptaan Allah. Sehingga kita pun mendapatkan kasih sayang dari Allah Ta'ala.


2. Tidak menjadikan hewan sebagai sasaran

Banyak kasus ketika hewan mengganggu, seperti kucing yang mencuri ikan, maka kucing tersebut dihukum dengan melemparinya dengan batu atah bahkan dipukul. Hal ini sungguh dilarang. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang menjadikan hewan sebagai sasaran, baik itu sasaran amarah atau juga sasaran untuk dibidik dengan panah. Hal tersebut sesuai dengan hadits berikut:

لَعَنَمَنِاتَّخَذَشَيْئًافِيهِالرُّوحُغَرَضًا

“Allah mengutuk orang yang menjadikan sesuatu yang bernyawa sebagai sasaran” (HR Al-Bukhari: 5515, Muslim: 1958) 


3. Berbuat baik pada hewan

Memberi Makan Persia | nimadesriandani

Foto: nimadesriandani.wordpress.com

Anjuran berbuat baik kepada hewan berlaku bagi hewan yang disukai maupun tidak disukai. Janganlah menyiksa dan menganiaya hewan, sekalipun hewan itu termasuk najis dalam islam. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فِيكُلِّكَبِدٍرَطْبَةٍأَجْرٌ

“Pada setiap yang mempunyai hati yang basah (hewan) itu terdapat pahala (dalam berbuat baik kepadaNya)” (HR Al-Bukhari: 2363)


4. Tidak menyiksa saat menyembelih

Panduan 10 Cara Menyembelih Hewan Qurban Sapi Menurut Syariat Islam – Star  Farm International

Foto: starfarm.co.id

Contoh berbuat baik pada hewan yang mau disembelih adalah memberi minum, tidak diletakkan pada tempat yang panas, tidak memukuli, mempertajam pisau yang digunakan untuk menyembelih dan sebagainya.

Hikmah mempertajam pisau tersebut yakni supaya saat disembelih hewan tersebut langsung mati dan tidak merasakan sakit. Kemudian dianjurkan menyembelih dengan satu kali gerakan dan tidak diulang-ulang, juga dengan tujuan agar hewan tidak merasa kesakitan. Nabi Muhamad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّاللهَكَتَبَاْلإِحْسَانَعَلىَكُلِّشَيْءٍ, فَإِذَاقَتَلْتُمْفَأَحْسِنُوْاالْقِتْلَةَ, وَإِذَاذَبَحْتُمْفَأَحْسِنُوْاالذَّبْحَ, وَلْيُحِدَّأَحَدُكُمْشَفْرَتَهُ, وَلْيُرِحْذَبِيْحَتَهُ

“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan ihsan (berbuat baik) atas segala sesuatu, maka apabila kalian membunuh hendaklah berlaku ihsan di dalam pembunuhan, dan apabila kalian menyembelih hendaklah berlaku baik di dalam penyembelihan, dan hendaklah salah seorang kamu menyenangkan sembelihannya dan hendaklah ia mempertajam mata pisaunya” (HR Muslim: 1955)


5. Tidak berbuat dzalim

“Seorang perempuan masuk neraka karena seekor kucing yang ia kurung hingga mati, maka dari itu ia masuk neraka karena kucing tersebut, disebabkan ia tidak memberinya makan dan tidak pula memberinya minum di saat ia mengurungnya, dan tidak pula ia membiarkannya memakan serangga di bumi” [HR Al-Bukhari : 3482]

Dapat disimpulkan dari hadist diatas diatas, bahwa menyiksa atau berbuat dzalim kepada hewan dapat menjadi penyebab sesorang disiksa di neraka.


6. Tidak memberi wasam

Adapun wasam adalah memberi tanda atau tato dengan cara membakar besi, kemudian dicap ke bagian tubuh hewan. Mengenai wasam terhadap wajah ternak, terdapat perbedaan pendapat beberapa ulama

1. Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menerangkan bahwa wasam dilarang berdasarkan kesepakatan ulama.

2. Sebagian ulama’ lagi berpendapat bahwa pemberian wasam adalah makruh. Yakni bermakna boleh dilakukanjika tujuannys agar tidak hilang dan tertukar, dengan syarat bahwa  yang diberi wasam adalah telinga hewan, bukan wajah.

3. Namun Al-Baghawi mengatakan bahwa larangan disini adalah Haram, yang mengacu pada hadits Nabi berikut:

عن جابر قال نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الضرب في الوجه وعن الوسم في الوجه

“Dari sahabat Jabir berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang memukul  wajah dan menandai wajah” (HR.Muslim)


Kemudian, hadits lain yang melarang wasam adalah:

لَعَنَاللَّهُالَّذِيوَسَمَهُ

“Allah mengutuk orang yang memberi wasam pada muka keledai ini” (HR Muslim: 2117)


7. Diperbolehkan membunuh hewan yang mengganggu

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam membolehkan membunuh hewan yang mengganggu dan membahayakan manusia, seperti nyamuk, ular, tikus, anjing buas, dan sebagainya. Hal ini sesuai hadits berikut:

خَمْسٌفَوَاسِقُيُقْتَلْنَفِيالْحِلِّوَالْحَرَمِالْحَيَّةُوَالْغُرَابُالْأَبْقَعُوَالْفَأْرَةُوَالْكَلْبُالْعَقُورُوَالْحُدَيَّا

”Ada lima macam hewan fasik yang boleh dibunuh di waktu halal (tidak ihram) dan di waktu ihram, yaitu ular, burung gagak yang putih punggung dan perutnya, tikus, anjing buas dan rajawali” [HR Muslim : 1198].


8. Tidak sibuk mengurus mewan

Dalam islam, mengurus dan merawat hewan adalah perbuatan baik yang sangat dianjurkan. Namun tentu saja, tidak boleh sampai melupakan kewajiban beribadah dan mengingat Allah Ta'ala. Firman Allah Ta'ala:

يَاأَيُّهَاالَّذِينَآمَنُوالاتُلْهِكُمْأَمْوَالُكُمْوَلاأَوْلادُكُمْعَنْذِكْرِاللَّهِ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah” (QS. Al-Munafiqun/63: 9)


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah bersabda:

الْخَيْلُلِرَجُلٍأَجْرٌوَلِرَجُلٍسِتْرٌوَعَلَىرَجُلٍوِزْرٌفَأَمَّاالَّذِيلَهُأَجْرٌفَرَجُلٌرَبَطَهَافِيسَبِيلِاللَّهِفَأَطَالَبِهَافِيمَرْجٍأَوْرَوْضَةٍفَمَاأَصَابَتْفِيطِيَلِهَاذَلِكَمِنْالْمَرْجِأَوْالرَّوْضَةِكَانَتْلَهُحَسَنَاتٍوَلَوْأَنَّهُانْقَطَعَطِيَلُهَافَاسْتَنَّتْشَرَفًاأَوْشَرَفَيْنِكَانَتْآثَارُهَاوَأَرْوَاثُهَاحَسَنَاتٍلَهُوَلَوْأَنَّهَامَرَّتْبِنَهَرٍفَشَرِبَتْمِنْهُوَلَمْيُرِدْأَنْيَسْقِيَكَانَذَلِكَحَسَنَاتٍلَهُفَهِيَلِذَلِكَأَجْرٌوَرَجُلٌرَبَطَهَاتَغَنِّيًاوَتَعَفُّفًاثُمَّلَمْيَنْسَحَقَّاللَّهِفِيرِقَابِهَاوَلَاظُهُورِهَافَهِيَلِذَلِكَسِتْرٌوَرَجُلٌرَبَطَهَافَخْرًاوَرِيَاءًوَنِوَاءًلِأَهْلِالْإِسْلَامِفَهِيَعَلَىذَلِكَوِزْرٌ

“Kuda itu ada tiga macam. Kuda bagi seseorang menjadi pahala, kuda bagi seseorang menjadi pelindung dan kuda bagi seseorang menjadi dosa. Adapun kuda yang mendatangkan pahala adalah kuda seseorang yang dipangkal untuk fisabilillah, ia banyak berdiam di padang rumput atau di taman. Maka apa saja yang dimakan oleh kuda itu selama dipangkal di padang rumput atau di taman itu, maka pemiliknya mendapat pahala-pahala kebajikan. Dan sekiranya ia meninggalkannya lalu mendaki satu atau dua tempat tinggi, maka jejak dan kotorannya menjadi pahala-pahala kebajikan baginya. Maka dari itu kuda seperti itu menjadi pahala bagi pemiliknya. Kuda yang diikat oleh seseorang karena ingin menjaga kehormatan diri (tidak minta-minta) dan ia tidak lupa akan hak Allah Subhanahu wa Ta’ala pada leher ataupun punggung kuda itu, maka kuda itu menjadi pelindung baginya. Dan kuda yang diikat (dipangkal) oleh seseorang karena kebanggaan, riya dan memusuhi orang-orang Islam, maka kuda itu mendatangkan dosa baginya” (HR Al-Bukhari : 2371)


9. Tidak memisahkan hewan dengan induknya

Potret Keluarga Hewan Harmonis yang Bikin Adem

Foto: inet.detik.com

Suatu ketika, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat seekor burung yang berputar-putar mencari anak-anaknya, yang telah diambil dari sarangnya oleh salah seorang sahabat. Kemudian Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْفَجَعَهَذِهِبِوَلَدِهَارُدُّواوَلَدَهَاإِلَيْهَا

“Siapa gerangan yang telah menyakiti perasaan burung ini karena anaknya? Kembalikanlah kepadanya anak-anaknya” (HR Abu Daud : 2675 dengan sanad shahih)

 

10. Mengeluarkan zakatnya

Zakat Hewan Ternak - Mizan Amanah

Foto: mizanamanah.or.id

Zakat terhadap hewan diperuntukkan kepada hewan ternak yang sudah mencapai nisab dan haul. Sebagaimana oleh hadits berikut:

بَعَثَنِى النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِلَى الْيَمَنِ فَأَمَرَنِى أَنْ آخُذَ مِنْ كُلِّ ثَلاَثِينَ بَقَرَةً تَبِيعًا أَوْ تَبِيعَةً وَمِنْ كُلِّ أَرْبَعِينَ مُسِنَّة

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkanku untuk mengambil (zakat) dari setiap ekor sapi ada zakat dengan kadar 1 ekor sapi tabi’(jantan berusia 1 tahun) atau tabi’ah (betina berusia 1 ekor tahun). Dan setiap 40 ekor sapi ada zakat dengan kadar sapi musinah (berusia 2 tahun) [HR.Tirmidzi:623]

Referensi: 10 adab terhadap hewan


Hai Sahabat Muslimlife👋🏻

Yuk pantengin lebih banyak tentang dunia hewan, dalam video GRATIS mengenal dunia hewan dalam ranah anak muda

#MuslimlifeMenjawabKeresahanmu


Download Aplikasi Muslimlife sekarang juga !
Playstore
Appstore
Topik Terkait :

Baca Artikel dan Berita Lainnya :