thumbnail

Bagaimana Sikap Dunia Islam Terhadap Ibadah Haji di Metaverse?

15 Februari 2022

Ramai diperbincangkan, Haji Metaverse dengan Teknologi “Virtual Black Stone Initiative” disebut memungkinkan muslim menyentuh Hajar Aswad tanpa meninggalkan rumah. Namun sayang, langkah ini ditentang banyak orang, karena dinilai tidak sah.


Lalu, apa sih Metaverse itu?

Dari USA Today, Rabu (9/2), Metaverse adalah kombinasi beberapa elemen teknologi termasuk VR, Augmented Reality (AR), dan video di mana penggunanya bisa berinteraksi pada dunia digital. Pengguna Metaverse bisa bekerja, bermain, dan dapat terhubung mulai dari konferensi, konser sampai keliling dunia secara virtual.

Haji metaverse yang dicoba Syekh Sudais

Foto : ihram.republika.co.id


Orang pertama yang mencoba teknologi ini adalah Imam Masjidil Haram, Sheikh Abdul Rahman Al-Sudais. Beliau memakai kacamata VR di acara peresmian, Desember lalu. “Arab Saudi memiliki situs keagamaan dan sejarah besar yang harus digitalisasi dan dikomunikasikan kepada semua orang melalui sarana teknologi baru,” kata Sheikh Abdul Rahman Al-Sudais yang dikutip Middle East Eye.

Namun, inisiatif ini menuai banyak perdebatan. Kepresidenan Urusan Agama Turki atau Diyanet mengatakan bahwa muslim dapat mengunjungi Ka’bah di Metaverse, namun kegiatan itu tidak bisa dihitung sebagai ibadah.

“Ibadah haji harus dilakukan dengan pergi ke kota suci dalam kehiduapan nyata. Adapun versi Metaverse Ka’bah menjadi kontroversial di kalangan Muslim di seluruh dunia setelah acara ‘Virtual Black Stone Initiative’ Arab Saudi pada Desember,” ungkap Direktur Departemen Layanan Haji dan Umroh Diyanet Remzi Bircan.


Bagaimana sikap MUI?

Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun turut memberikan pandangan soal haji di Metaverse. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis berpandangan  bahwa "Menurut rilis Arab Saudi ketika peluncurannya adalah agar umat Islam bisa mengalami bahkan merasa mencium Hajar Aswad secara virtual sebelum melaksanakan ibadah haji ke Makkah. Jadi, peluncuran itu sebagai sarana promosi wisata religi dari Pemerintah Arab Saudi," ungkap KH Cholil Nafis dalam MNC Portal beberapa waktu lalu.


Ia juga menerangkan bahwa pelaksanaan ibadah haji harus dengan fisik di dunia nyata, begitupun ibadah umrah sebagaimana tuntunan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassallam, sebab ibadah haji bersifat ta’abbudi dan tauqifi.

"Selamanya ibadah haji bersifat tetap, tidak mengalami perubahan tempat dan waktu. Asalnya ibadah itu haram sampai ada tuntunan yang mengajarinya. Maka Muslim tidak dapat melakukan ibadah dan haram (dilarang) hukum jika tidak ada tuntunannya dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassallam," tambahnya.

KH Cholil Nafis melanjutkan, metaverse baik untuk interaksi sosial dan ekonomi secara virtual. Namun, hal ibadah itu mahdhal (murni), tidak bisa dipindah ke dunia fiksi. Dengan begitu, haji dan shalat tidak sah jika dilakukan di metaverse.


Hal serupa juga dinyatakan oleh Ketua Bidang Fatwa MUI, Asrorun Niam Sholeh. Beliau juga mengatakan bahwa kunjungan Ka’bah secara virtual melalui Metaverse bermanfaat sebagai pengenalan lokasi ibadah. “Namun, terkait pelaksanaan ibadah haji dengan mengunjungi Ka’bah secara virtual tidak cukup, karena itu tidak memenuhi syarat ibadah haji. Kunjungan virtual bisa dilakukan untuk mengenalkan sekaligus persiapan pelaksanaan ibadah atau biasa disebut latihan manasik haji atau umroh,” ucap Asrorun, Rabu (9/2). 

Wallahu a'lam bishawab.

Sumber :

https://ihram.republika.co.id/berita/r715ep430/apa-itu-haji-metaverse-dan-bagaimana-sikap-dunia-islam



#MuslimlifeMenjawabKeresahanmu


Download Aplikasi Muslimlife sekarang juga !
Playstore
Appstore
Topik Terkait :

Baca Artikel dan Berita Lainnya :