thumbnail

Kisah Sahabat Nabi yang Paling Kaya

25 Januari 2022

Abdurrahman Bin Auf adalah sahabat Rasulullah yang paling kaya dan termasuk salah satu Sabiqunal Awwalun atau orang-orang pertama yang mendapat hidayah keislaman. Dan MaaSyaa Allah, Abdurrahman Bin Auf juga masuk dalam salah satu dari sepuluh orang (al-asyratul muqashshirin) yang suah dijamin masuk surga.

Terkenal tajir melintir, kekayaan Abdurrahman Bin Auf tidak ada yang bisa menandingi, termasuk orang terkaya saat ini. Tidak sombong serta sifat dermawan beliau pun sangat patut dijadikan teladan.


Profil Abdurrahman Bin Auf

Sebelum mendapat hidayah masuk Islam, nama Abdurrahman Bin Auf adalah ‘Abdu ‘Amr. Barulah setelah masuk Islam, Rasulullah memanggil beliau dengan nama ‘Abdurrahman, yang berarti hamba Tuhan Yang Maha Pemurah. Ayahnya bernama Auf bin Abdul Auf al-Harith dan ibunya adalah Siti As-Syifa. Kemudian, Abdurrahman Bin Auf lahir pada 10 tahun setelah Tahun Gajah (580 Masehi) dan merupakan keturunan Bani Zuhrah,  yang berasal dari Jurai.

Dikenal sebagai sahabat nabi yang paling kaya, perjalanan Abdurrahman tidak lantas mudah begitu saja. Terlebih di awal beliau masuk Islam, tentu banyak hukuman dan cemoohan dari kaum Quraisy. Dalam keadaan itu, Abdurrahman dan sahabat lainnya tetap sabar, tabah dan teguh dengan syariat Islam.


Mulai Hijrah

Abdurrahman bin Auf beserta para kaum muslimin yang mendapat penganiayaan yang sangat keji hijrah keluar dari Mekkah menuju Abyssinia. Kemudian, mereka kembali lagi ke kota Mekkah ketika mendengar berita bahwa kondisi umat Islam membaik. Namun disayangkan, berita tersebut adalah hoax dan mereka pun kembali ke Abyssinia. Tidak lama, Abdurrahman kembali hijrah dengan tujuan Madinah.

Tiba di Madinah,  Abdurrahman tidak lagi memiliki harta, kekayaannya ditinggal demi mengikuti ajaran Allah dan Rasul-Nya. Selama di Madinah, Abdurrahman dan rombongan lainnya menetap di hunian kaum Anshar (para muslim penolong di Madinah), sehingga mampu membangun rumah masing-masing. Selama di  Madinah, Abdurrahman memulai kehidupannya dari awal. Dan Alhamdulillah,  Abdurrahman dapat menjalin persaudaraan baik dengan Sa’ad bin Ar-Rabi’ah, yang merupakan salah satu orang terkaya di Madinah.


Memulai Bisnis dari Bawah

Sejarah dari sebutan Abdurrahman ‘sahabat nabi paling kaya’ adalah ketika Abdurrahman memulai bisnis perdagangan. Kecekatan dan keahlian memanfaatkan peluang mengubah bisnis sederhana beliau menjadi kesuksesan yang hebat.

Bisnis awal Abdurrahman yakni berdagang susu (yoghurt) dan mentega. Namun, beliau beralih ke perdagangan kuda karena melihat peluang perdagangan yang lebih berpotensi.Namun tidak lantas mudah, beliau mendapat keuntungan yang semakin menipis. Sehinnga akhirnya Abdurrahman mengembangkan bisnisnya menjadi perdagangkan komoditas pelana dan kuda. Alhamdulillah, usaha perdagangan pelana dan kuda menghasilkan keuntungan yang sangat banyak.


Abdurrahman bin Auf Menikah

Bisnis yang sangat sukses menjadikan Abdurrahman Bin Auf menjadi sosok muslim yang kaya raya. Tidak lama, Abdurrahman pun menikahi salah satu perempuan kaum Anshar. Setelah menikah, beliau menjumpai Rasulullah.

“Mahyarn, wahai Abdurrahman!” ucap Rasulullah dengan seruan seperti kejutan yang membahagiakan.

“Saya sudah menikah,” jawab Abdurrahman. 

“Apa yang sudah kamu berikan kepada istrimu sebagai mahar?” Abdurrahman lantas menjawab, “Sebutir emas dengan berat seperti butir kurma.”

“Kamu harus mengadakan walimah untuk pernikahanmu meski dengan seekor domba. Semoga Allah yang Maha Kuasa senantiasa memberkahimu dalam kekayaan yang kamu miliki,” ucap Rasulullah yang menunjukkan rasa senang.


Perjalanan Abdurrahman bin Auf Setelah Wafatnya Nabi

Sepeninggalan Rasulullah, Abdurrahman melanjutkan perjuangan dengan merawat ibu-ibu mukminin melalui penanganan yang luar biasa. Kepedulian beliau menjadikan Aisyah ra memohonkan untuknya, “Semoga Allah memberinya air salsabil (air mata di surga)”. Abdurrahman juga termasuk Sahabat Nabi yang mempunyai jaminan surga. Akan tetapi, sabda Rasulullah mengatakan bahwa Abdurrahman  akan masuk surga dengan merangkak karena kekayaannya yang sangat banyak.

Ketika teringat sabda Nabi tersebut, Abdurrahman pun menangis dan berdoa. “Ya Allah, jadikan aku miskin. Aku ingin menjadi seperti Mush’ab bin Umair atau Hamzah, yang ketika meninggal hanya menyisakan sehelai kain saja.”

Atas kehendak Allah, Abdurrahman bin Auf selama hidup memang  menjadi muslim yang kaya raya. Rasulullah berkata, “Infakkan dan sedekahkan dari banyaknya hartamu sehingga langkahmu untuk menggapai surga-Nya terasa lebih ringan.”


Wafatnya Abdurrahman bin Auf

Abdurrahman bin Auf wafat pada tahun 32 H, ketika beliau berumur 75 tahun. Ketika itu, beliau dishalatkan oleh Utsman r.a yang menjadi saingan berat dalam bersedekah. Sebelum meninggal dunia, Abdurrahman menginfakkan harta sebanyak 400 dinar kepada para muslim yang ikut perang Badar. Setiap muslim, termasuk Ali bin Abi Thalib mendapat masing-masing empat dinar.

Dalam surat wasiat, Abdurrahman bin Auf berpesan agar membagi hartanya dalam tiga bagian. Sepertiga untuk modal usaha para sahabatnya, sepertiga lain untuk melunasi segala hutangnya selama hidup, dan sepertiga lainnya disumbangkan untuk fakir miskin di zamannya.


Peninggalan Abdurrahman bin Auf untuk kesuksesan bisnis

Kesuksesan bisnis paling utama ialah pengamalan salah satu rukun Islam, yakni zakat. Selanjutnya yaitu do’a dan tawakal. Kemudian, berikut strategi bisnis peninggalan Abdurrahman bin Auf yang bisa diteladani :

1. Esensial bisnis

Abdurrahman bin Auf hanya mengambil laba sedikit dengan volume penjualan yang banyak. Contohnya : produk Rp10 terjual banyak itu lebih baik daripada harga Rp100 namun hanya terjual satu saja. Adakala, lebih baik bisnis dimulai dengan keuntungan sedikit, hingga nanti semakin banyak.

2. Penjualan secara tunai

Ya, Abdurrahman memilih strategi yang lebih mementingkan Rp100 ribu dengan pembayaran yang langsung atau tunai daripada senilai 1 juta namun dengan pembayarann yang kredit.

3. Integritas

Ketika pertama kali berbisnis, Abdurrahman tidak memiliki modal. Beliau mengandalkan kalimat, “Saya ambil barang ini kali ini, esok saya akan membayarnya.” Artinya ialah tidak mengapa memulai usaha dengan cara bekerjasama dengan pedagang yang lain.

4.Berbisnis harus berorientasi pada pasar

Kebutuhan konsumen selalu diperhatikan. Bahkan bisa dikatakan bahwa pasar yang Abdurrahman bangun lebih maju daripada pasar yang sudah ada sebelumnya.


Keteladanan dari sosok sahabat nabi yang paling kaya

Pelajaran berharga dari sosok Abdurrahman bahwasanya harta dan kekayaan tidak bisa menjadi tiket penebus surga Allah. Namun bagaimana manusia memanfaatkan hartanya di jalan yang Allah ridhai. Kemudian, kedermawanan dan tidak sombong dengan kekayaannya, beliau tunjukkan dengan sifat beliau yang senantiasa menginfakkan harta di jalan Allah dan turut membantu saudara.

Dari segi bisnis, pelajaran pentingnya yakni bekerja itu untuk mencari keberkahan dan keridhaan Allah yang Maha Kuasa, bukan hanya mencari keuntungan atau mengejar kepentingan dunia saja.

Ya, semoga kita bisa mengamalkan contoh baik dari sifat dan kehidupan Abdurrahman bin Auf. Aamiin. Wallahu a’lam bishawab

Sumber  : https://www.harapanrakyat.com/2021/08/



#MuslimlifeMenjawabKeresahanmu


Download Aplikasi Muslimlife sekarang juga !
Playstore
Appstore
Topik Terkait :

Baca Artikel dan Berita Lainnya :