thumbnail

Pendamping Setia yang Selalu Berdiri di Tengah-tengah antara Rasulullah dan Musuh

13 Desember 2021

Mengenal Shuhaib bin Sinan Abu Yahya an-Namiri, satu dari kelompok orang yang paling pertama masuk Islam. Shuhaib bin Sinan merupakan tokoh dari Romawi, namun ada juga sejarah yang mencatat bahwa nenek moyangnya berasal dari Arab. Dulu, keluarganya adalah orang yang terhormat. Ayahnya adalah hakim dan walikota Iraq, yang diangkat oleh Kisra, Raja Persia. Shuhaib sekeluarga tinggal di istana yang letaknya di pinggir sungan Eufrat ke arah hilir Jazirah dan Mosul.

Suatu masa, orang-orang Romawi menyerbu dan menawan penduduk, termasuk Shuhaib. Terpaksa, ia menjadi budak orang Romawi sejak sejak masa kanak-kanak hingga permulaan remaja. Shuhaib dijual-belikan sebagai budak dari satu saudagar ke saudagar lain, hingga sampailah ia di Makkah. Dan Alhamdulillah, berkat kejujuran, kecerdasan dan kerajinan, majikannya yang terakhir memberikan Shuhaib kesempatan berniaga bersama, bahkan membebaskan ia dari perbudakan. Kemudian, Shuhaib sukses dan berkembang hingga menjada saudagar kaya. Shuhaib tinggal lama di Romawi hingga mendapat gelar ar-Rumi.


Memeluk Islam

Shuhaib memutuskan bersyahadat di awal-awal Rasulullah berdakwah. Kala itu, Rasulullah masih berdakwah sembunyi-sembunyi di rumah Arqam bin Abu Arqam. Ammar bin Yasir menceritakan, mereka berdua yakin dan memeluk Islam setelah mendengar dahwah Rasulullah tentang aqidah Islam hingga petang hari. Tidak lantas mudah, Shuhaib pernah sekali diculik oleh kelompok pemuda Quraisy karena tidak menerima keislamannya, serta agar ia tidak bisa mengikuti Rasulullah hijrah. 


Kisah Hijrah dan Menjadi Tawanan Orang Quraisy

Salah satu kisah penuh hikmah dari Kecintaan Shuhaib kepada Rasulullah terpancar kala ia bersama kelompok muhajirin dan Rasulullah berhijrah ke Habasyah untuk menghindari kaum Quraisy. Rencananya, Shuhaib menjadi orang ketiga yang berangkat ke Madinah, setelah Rasulullah dan Abu Bakar. Namun sayang, orang Quraisy mengetahui rencana itu dan menangkap Shuhaib. Mengalami hal sulit tidak lantas membuat cinta dan keimanannya goyah. Shuhaib justru tetap memilih setia dan pergi bersama Rasulullah dibandingkan mempertahankan harta dan kekayaan yang sudah ia kumpulkan sejak di Makkah.

Dalam kondisi menjadi tawanan, Shuhaib menawarkan seluruh hartanya kepada pemuda Quraisy yang menangkapnya, dengan imbalan mereka harus membiarkan ia pergi ke Habasyah. Tergiur, para pemuda itu pun setuju. Shuhaib dilepaskan dan ia melanjutkan perjalanan seorang diri hingga menyusul Rasulullah yang sudah berada di Quba'.

Kedatangan Shuhaib disambut gembira oleh Rasulullah yang saat itu sedang duduk dikelilingi para sahabat. "Beruntung perdaganganmu, hai Abu Yahya! (nama lain Shuhaib)", Rasulullah mengulang ucapannya dua kali. Keistimewaan kisah Shuhaib dikaitkan dengan turunnya ayat Al=Qur'an surat Al-Baqarah ayat 207 :

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ 

Artinya: “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya”.


Sang Pendamping Setia

Ya, Shuhaib adalah pendamping setia Rasulullah yang terkenal dengan sifat yang berani dan handal berpanah dan menggunakan lembing. Tidak ada angkatan perang, persiapan bantuan dan perjanjian yang dilakukan oleh Rasulullah, yang Shuhaib tidak ada di dalamnya. Tidak ada peperangan yang berkecamuk, yang Shuhaib tidak ada di sisi kanan-kiri Rasulullah. Dengan kata lain, Shuhaib adalah orang yang selalu berdiri di tengah-tengah antara Rasulullah dan musuh.

Sumber:

https://www.hidayatullah.com/kajian/sejarah/read/2011/12/05/977/shuhaib-bin-sinan-sang-pendamping-setia-rasulullah.html



#MuslimlifeMenjawabKeresahanmu


Download Aplikasi Muslimlife sekarang juga !
Playstore
Appstore
Topik Terkait :

Baca Artikel dan Berita Lainnya :